oleh

PUPR Tindak Lanjuti Laporan Jebolnya Tanggul

Warga Minta Tanggul Segera Direhab

SKNews – Pulang Pisau : Warga pantai Sangiang, Desa Papuyu III Sei Pudak, Kecamatan Kahayan Kuala, Kabupaten Pulang Pisau, meminta agar pemerintah daerah merehabilitasi kontruksi tanggul pembatas air laut yang ada di desa itu, mengingat tanggul yang ada tidak mampu lagi menahan debit dan ketinggian air laut ketika mengalami gelombang pasang.

Salah seorang warga yang bercocok tani di lokasi itu, Wardi mengatakan, ia berharap pemerintah daerah segera melakukan rehab terhadap tanggul penahan air laut sepanjang 1 kilometer itu yang diduga mengalami abrasi akibat terkikis air laut.

“Kalau bisa segera direhab pak, supaya bisa mengurangi dampak banjir pada saat terjadi pasang tinggi, kasian petani seperti kami ini karena lahan kami terendam air sehingga tanaman kami menjadi rusak,” kata Wardi.

Senada disampaikan Wardi, Anggota DPRD Kabupaten Pulang Pisau Dapil 3, Suhardi membenarkan keinginan warga tersebut. “Iya benar, ini yang disampaikan warga disana, mereka ingin tanggul yang ada direhab lagi dan dibangun lebih tinggi, sebab air laut semakin tinggi melampaui ketinggian tanggul pembatas air laut yang ada sekarang ini, menurut laporan tanggul juga mengalami abrasi akibat terkikis air laut,” ujarnya, Senin (1/6) di Pulang Pisau.

Sementara Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Pulang Pisau, Usis I Sangkai membenarkan kondisi tanggul pembatas air laut di Kecamatan Kahayan Kuala saat ini sudah tidak mampu menahan debit dan ketinggian air laut di kawasan itu. “Kami sudah mengintruksikan staf untuk meninjau lokasi disana,” tukas Usis.

Berdasarkan laporan staf yang meninjau bersama pengamat pengairan di Kecamatan Kahayaan Kuala menyebutkan, air pasang berasal dari pesisir pantai melewati tanggul sepanjang 1 kilometer yang saat ini mengalami abrasi akibat terkikis gelombang air laut yang cukup tinggi.

“Tanggul berada sekitar 400 meter dari pesisir, air kemudian masuk melalui saluran yang dibangun oleh kelompok tani asal Sulawesi secara swadaya untuk mengairi tambak mereka, panjang saluran 7 km dari pesisir pantai dengan lebar lahan rata-rata 400 meter,” kata Usis menyampaikan laporan staf dan pengamat pengairan yang melaporkan via WhatsApp, Senin (1/6).

Menurut laporan pengamat pengairan, lanjut Usis, lahan pertanian Palawija yang terendam air pasang berkisar 40-50 hektare. “Sebab dari 7 km lahan yang ada, hanya sekitar 5 km lahan Palawija yang masih produktif,”ujarnya.

Usis juga mengatakan bahwa bagi warga disekitar pesisir pantai tidak mengalami banjir akibat luapan air laut ini. “Karena warga di sekitar pesisir pantai sudah membuat penahan banjir secara manual,” ucapnya.

Mengenai permintaan warga agar tanggul tersebut direhab, Usis menangapi positif. “Ya kita akan merehab tanggul pembatas air laut itu dengan membangun kontruksi yang lebih tinggi agar mampu menahan luapan air laut ketika mengalami pasang tinggi, mudah-muadahan tahun depan sudah bisa kita anggarkan,” tegas Usis. asri/red

Komentar

SK News Update