Di Palangka Raya, Pria Asal Jatim Ini Layani Jasa Permak Pakaian

  • Bagikan
Kreatifitas masyarakat untuk tetap bertahan ditengah himpitan ekonomi pasca pandemi covid-19, pemuda ini tetap mempertahankan keahliannya menjahit. Foto : Fahmi

SK News, PALANGKA RAYA – Di pinggir jalan RTA Milono Km 6,5 Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng).

Dengan bermodalkan ketrampilan menjahit pakaian dan mesin jahit yang sudah terlihat sangat tua itu, Eko (27) seorang perantau dari Jawa Timur di ibukota Kalteng dengan julukan Kota Cantik tersebut membuka layanan jasa permak pakaian.

Terhitung tiga tahun terakhir ini, dibawah atap berbahan terpal dan berlantai dari papan kayu tersebut setiap hari dengan semangat menunggu dan bekerja untuk mengais rezeki di perantauan.

“Sekitar tiga tahun ini saya buka lapak jasa permak pakaian disini mas,” ungkapnya.

Sambil menggoyangkan kakinya untuk memutar roda mesin yang terbuat dari rangkaian besi berwarna hitam dan tampak tua itu, Eko menjelaskan bahwa pekerjaan yang digelutinya tersebut lebih dikenal dengan sebutan permak levis (salah satu merk celana dan jaket, red).

“Padahal pekerjannya ini tidak hanya mengubah atau memotong pakaian untuk jenis tertentu saja melainkan semua pakaian bisa kerjakan. Tapi kebanyakan dikenal dengan permak levis,” imbuhnya sambil tersenyum.

Kebanyakan yang meminta jasanya tersebut untuk memotong dan mengecilkan pakaiannya. Ada juga minta jahitkan kembali karena pakaiannya ada yang robek.

“Kadang saya mengerjakan celana, baju, dan pakaian lainnya untuk semua usia. Seperti ada yang kepanjangan minta dipotong, dan ada juga yang minta dikecilkan karena kebesaran,” tuturnya.

Ia menguraikan bahwa tidak mematok pasti untuk upah dari jasanya tersebut, melihat dari banyak dan tingkat kesulitan pengerjaannya baru disepakati antara dirinya dengan orang yang meminta jasanya.

“Saya tidak mematok pasti mas. Intinya saya dan para pelanggan senang serta ikhlas,” imbuhnya.

Ketika ditanya mengenai pundi rupiah yang didapatkan setiap harinya, pria murah yang suka bercanda itu dan mengaku sudah dua tahun tidak pulang ke kampung halamannya di Jawa ini enggan menyebutkan.

“Disyukuri aja mas. Berapapun rezeki yang didapat setiap harinya. Yang pasti cukup untuk kebutuhan hidup, kalau ada lebihnya ya ditabung,” pungkasnya. *.*

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!