Bergelut dengan Sampah untuk Memenuhi Kebutuhan Hidup

  • Bagikan
Bapak Sahai yang keseharian mengumpulkan sampah di kawasan rei 3 bersama sang istri dengan penghasilan 500 ribu sebulan untuk menyambung hidup. Foto : Suryanah
SKNEWS, PULANG PISAU – Pemerintah daerah melalui dinas lingkungan hidup terus melakukan upaya kebersihan lingkungan dengan terus menambah jumlah TPS sementara sampah juga bisa bermanfaat untuk ekonomi masyarakat sekitar.

Adalah bapak Sahai, bersama sang istri dan seorang rekannya dirinya selama 8 bulan telah bergelut dengan sampah yang sangat menyengat bau serta ragam sampah yang disela tersebut terdapat sampah yang bisa dimanfaatkan untuk dijual kembali.

Dengan sebatang besi dan kail ketiganya membongkar satu persatu bungkusan plastik yang dibuang di bak penampung sementara di kawasan rei 3 desa Mentaren 1.

Kawasan ini merupakan kawasan tempat pembuangan sampah sementara di wilayah kecamatan kota Kahayan Hilir dimana sebelumnya tps berlokasi di kawasan pemukiman penduduk dan baru 8 bulan ini TPS dipindah ke lokasi ini.

Botol bekas dan barang yang dianggap bernilai rupiah satu persatu dikeluarkan dari kantong plastik dan dikumpulkan untuk dibersihkan dan dijual ke pengumpul serta mampu memberikan penghasilan bapak Sahai sebesar 500 ribu rupiah setiap bulan.

Dikatakan Sahai bahwa tidak mudah untuk terus bertahan berlama dilokasi tps sebab bau dan gangguan nafas telah dipertaruhkan demi terpenuhinya ekonomi keluarga mereka.

“ Sampah ini datang dari petugas dan setiap hari diangkut ke TPA oleh mobil pengangkut sampah, nah sebelum diangkut saya ambili sisa sampah yang bisa kita manfaatkan seperti botol – botol ini dan hasilnya saya jual kembali dan dalam sebulan kira – kira dapat 6 pikul senilai 500 atau 600 ribu, ya lumayan untuk bertahan belanja,” ucap Sahai.

Sahai dan istri harus terus berjalan mencari penghidupan demi ekonominya sedangkan guna menambah penghasilan mereka juga menyewa lahan sawah untuk ditanami padi walau dirinya juga masih pinjam lokasi untuk sebuah gubuk yang digunakan untuk tidur dan mengumpulkan sampah.

“ Kami masih sewa untuk tempat tinggal, sedangkan untuk menambah kebutuhan hidup kami pinjam sawah milik orang yang tidak ditanami untuk kita tanami padi ya hasilnya bisa buat makan sehari-hari,” ucap Sahai. *.*

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!