Hindari Penyebab Kerusakan, Ferry Milik Pemerintah di Mintin Tak Mau Angkut Mayat

  • Bagikan
Feri Mintin ini merupakan salah satu sarana angkut di wilayah Mintin dan satu - satunya sarana yang disediakan pemerintah. Foto : Koleksi

SK News, PULANG PISAU – Pemerintah seharusnya tak menggunakan dalih kepercayaan jika mengangkut mayat maka sarana yang digunakan bisa terjadi kerusakan, ini adalah anggapan yang dilakukan Dinas Perhubungan untuk tidak melayani jasa angkut orang yang meninggal.

Kondisi jalan yang dalam keadaan rusak berat menjadi pemicu utama masyarakat tak dapat melalui jalan dikawasan Mintin menuju Maliku dan sebaliknya,  berbagai aktifitas sering terkendala akibat kerusakan jalan yang kian hari semakin parah bahkan untuk masyarakat yang berduka-pun harus mencari solusi estapet menghindari jalan yang tak bisa digunakan.

Ironisnya lagi, sebuah kapal ferry milik pemerintah yang melayani jasa penyeberangan di desa Mintin juga belum bersedia untuk melayani masyarakat yang sedang berduka, akibatnya untuk kepentingan sosial mengangkut mayat menjadi kendala yang serius dihadapi.

Menurut Anggota DPRD Pulang Pisau, Jamilah bahwa pemerintah harus siap dalam situasi apapun jika masyarakat memerlukan bantuan, terlebih jika masyarakat ada yang berduka dan ingin dibawa menggunakan ferry milik pemerintah maka hal tersebut juga harus dilayani.

Jamilah yang merupakan warga Kanamit kader partai Demokrat meyakini bahwa apapun bentuk pelayanan masyarakat harus dilakukan, termasuk layanan sosial justru menjadi beban dirinya untuk hadir memberikan pelayanan masyarakat namun saat hal itu dilakukan justru kapal milik pemerintah tersebut tak mau memberikan ijin mengangkut mayat dengan alasan jika kapal ferry digunakan membawa mayat maka kapal ferry akan cepat rusak.

“ Ini saya kira mitos yang harus dikesampingkan untuk kepentingan masyarakat, saya menganggap bahwa seringnya kapal ferry rusak bukan berarti mengangkut mayat melainkan perawatan yang tidak rutin dilakukan jadi jangan digunakan alasan kerusakan ferry akibat mengangkut mayat, ini artinya pemerintah tidak hadir didalam kesedihan masyarakat,” ucap Jamilah.

Pesawat Udara saja disebutkan bisa digunakan mengangkut mayat dan tak ada insiden buruk lalu kenapa kapal ferry angkut mayat malah disinyalir akibat mengangkut mayat, ini kata Jamilah sebuah argumen yang sangat ironis untuk hadirnya pemerintah dalam jiwa sosial.

“ Coba kita lihat, saat kapal ferry terjadi kerusakan yang cukup lama kemarin apakah habis mengangkut mayat. Tidak kan, itu disebabkan penggunaan yang panjang yang kurang memperhatikan perawatan dan justru saya kira menolong orang berduka itu akan memberikan manfaat yang baik bahwa pemerintah siap hadir dalam kondisi apapun di masyarakat,” beber Jamilah.

Selaku masyarakat yang tinggal didesa dirinya mempunyai beban moral kepada masyarakat untuk saling membantu sebab masyarakat sendiri selalu menjadikan dirinya jembatan untuk kepentingan masyarakat dan jika pemerintah tidak memberikan respon atas keadaan disuatu wilayah maka perlu dipertanyakan apakah pemerintah tidak melihat kondisi jalan yang rusak parah.

“ Anggapan yang disampaikan dinas perhubungan saya rasa bukan memihak masyarakat, akan tetapi hanya berpikir sepihak bahwa keyakinan jika sarana pemerintah digunakan sosial membawa mayat maka dipastikan alat akan rusak, tak pernah terpikir ambulan saja tiap hari membawa mayat tidak juga rusak,” Terang Jamilah seraya membeberkan justru yang menjadi penyebab kerusakan bisa jadi karena membawa sesuatu yang mendekatkan kemaksiatan.

Diakhir keluhannya jamilah berharap kedepan pemerintah bisa memberikan kebijakan yang memihak masyarakat dan tak perlu berkeyakinan bahwa membawa mayat adalah hal yang mendatangkan sial untuk sebuah alat angkut namun justru pemerintah wajib hadir jika masyarakat memerlukan. *.*

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!