Upaya Cegah Kebakaran dan Kearifan Lokal

oleh -24 views
Salah satu gambar kebajaran Hutan dan Lahan

SKNews ( Kalimantan Tengah ) : Kemarau datang, pemanasan global serta Kebakaran Hutan dan Lahan menjadi isu utama yang terjadi di Kalimantan Tengah terlebih Kabupaten Pulang adalah daerah yang selalu menjadi momok perbincangan dalam isu global Karhutla (Kebakaran Hutan Lahan ).

LSM Kahayan Bersatu Pulang Pisau memberikan gambaran terkait masalah kebakaran Hutan dan lahan di Kalimantan Tengah dan Pulang Pisau khususnya dengan berbagai sumber kita gali untuk memberikan gambaran untuk semua pihak.

Hingga saat ini tercatat sekurangnya 30 hektare untuk wilayah Pulang Pisau juga terdeteksi terjadi kebakaran Hutan dan Lahan sehingga pemerintah daerah juga melakukan langkah antisipasi menyiapkan berbagai sarana prasarana guna pencegahan karhutla dengan melibatkan berbagai sektor terkait.

Tahun 2015 lalu, kebakaran hutan dan lahan melanda Kalimantan Tengah. Kabut asap di mana-mana, menutupi Kota Palangkaraya. Bandar udara ditutup beberapa hari. Aktivitas masyarakat terhenti. Provinsi ini saat itu merupakan salah satu peristiwa yang terparah di Indonesia.

Tahun 2015 jumlah luasan lahan terbakar 583.833 hektar, tahun 2016: 6.148 hektar, tahun 2017: 1.744 hektar, dan 2018: 1035,955 hektar.

Kearifan lokal

Salah satu pengurus LSM ini menguraikan tentang kearifan lokal masyarakat adat Dayak dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Menurutnya, bagi orang Dayak dikenal konsep batang garing yang bermakna keseimbangan. Batang garing merupakan hubungan yang terjabarkan dalam nilai-nilai masyarakat, yaitu keseimbangan hubungan antara manusia dengan alam serta hubungan sesama manusia.

Sementara persoalan yang berhubungan dengan lingkungan, orang Dayak mengenal manyanggar dan memapas lewu. Manyanggar adalah upacara adat ketika membuka lahan baru untuk menghormati roh leluhur yang mendiami kawasan tersebut. Ketika membuka lahan harus minta izin kepada roh leluhur, jika tidak kampung akan mendapat malapetaka.

Dalam pemahaman lebih luas, manyanggar adalah sebuah kepedulian dan kehati-hatian pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam, sehingga orang tidak semena-mena memperlakukan alam, “Dua konsep ini sudah populer di kalangan masyarakat Dayak, proses penyadarannya dilakukan terus menerus,” sebut ketua LSM.

Selain itu, dalam konsep keberlanjutan, masyarakat Dayak mengenal manyalamat petak danum, yaitu pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya alam yang arif terhadap lingkungan. Harapannya, kelangsungan kehidupan umat manusia pada masa akan datang terjamin.

Konsep lainnya adalah belom bahadat sebagai pedoman mengatur hubungan manusia dengan alam mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam, serta sopan santun dalam kehidupan bersama. Konsep ini ada dalam pemanfaatan ruang publik sehingga terpelihara suasana hakam belom-belom (kerukunan) dalam kehidupan masyarakat KalimantanTengah yang pluralis.

Sementara kearifan lokal dalam penanggulangan kebakaran ada beberapa macam, misalkan eka malan manan satiar. Berdasarkan Peraturan Daerah tahun 1979 Tentang Hukum Adat Dayak Ngaju, disebutkan bahwa yang dimaksudkan eka malan mana satiar adalah wilayah kelola masyarakat yang berada pada posisi 5 kilometer dari kiri kanan sungai.

Fungsi kawasan kelola tersebut untuk berladang, menaman karet, menangkap ikap, berburu, dan mencari hasil hutan non-kayu seperti gemor, jelutung, gaharu, tanaman obat, dan rotan. Upaya penanggulangan kebakaran ada karena tanah adat milik bersama, memiliki wilayah kelola bersama dan jasa lingkungannya, serta identitas semua komunitas.

Kearifan lainnya dalam bentuk upun tanggiran, yang merupakan usaha masyarakat memanfaatkan pohon tanggiran sebagai tempat bersarangnya lebah madu. Namun, upaya ini mulai tergerus di masyarakat Dayak.

Sedangkan pahewan/tajahan merupakan hutan Keramat (zona inti), wilyah pali (zona buffer) dan wilayah kelola (usaha masyarakat). Masyarakat Dayak juga mengenal ladang berpindah, dan jika dilakukan secara adat maka tidak akan merambah ke tempat lain, serta pembakaran terkendali.

Menurutnya proses budaya dalam kehidupan masyarakat belum dipahami para pihak pengambil keputusan dan pemanfaat terbesar atas sumber daya alam itu. “Pada konteks tersebut, perlu dipertimbangkan kebijakan yang mengadopsi nilai budaya lokal sebagai upaya memperkuat partisipasi komunitas adat mencegah kebakaran hutan dan lahan,” ungkapnya.

“Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah sudah menjadi event tahunan. Dalam kondisi cuaca apa saja pasti terjadi. Awal tahun ini, ada satu kabupaten yang siaga karhutla sementara kabupaten lain tanggap darurat banjir. Tidak bisa dijadikan patokan musim hujan tidak ada kebakaran. Penyebabnya adalah 99 persen faktor manusia baik sengaja dan tidak, sementara faktor alam sangat kecil,” ujarnya.

Secara umum wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan ada pada areal gambut. Namun lokasi kebakaran sebagian besar sangat sulit dijangkau. Sementara faktor yang terjadi adalah keterbatasan diberbagai fasilitas, misalkan minimnya biaya operasional pemadaman, keahlian sumber daya manusia dan pengalaman.

Namun demikian peran membangun simpul multi-pihak dalam pengelolaan sumber daya alam dan pembangunan berkelanjutan melalui kolaborasi dan pemberdayaan. Tujuannya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mencegah kebakaran hutan dan lahan terjadi.

Dampak lainnya kebakaran hutan dan lahan menyebakan tersebarnya asap dan emisi gas karbondioksida dan gas-gas lain ke udara yang berdampak pada pemanasan global dan perubahan iklim. Kebakaran hutan akan menyebabkan hutan menjadi gundul sehingga tak mampu menampung cadangan air saat musim hujan. Hal ini yang menjadi faktor terjadinya tanah longsor maupun banjir.

Berkurangnya sumber air bersih dan menyebabkan kekeringan karena kebakaran hutan menyebabkan hilangnya pepohonan yang menampung cadangan air.

Apa peran yang bisa dilakukan masyarakat, Masyarakat bisa berperan dengan ikut mengawasi dan memantau titik rawan kebakaran hutan atau mewaspadai daerah dengan potensi kebakaran hutan tinggi.

Langkah lainnya yang bisa dilakukan masyarakat adalah  ketika musim kemarau atau berangin, sebaiknya jangan sembarangan melakukan pembakaran. Jangan membakar atau membuang puntung rokok pada rumput, semak kering di lokasi yang rawan terbakar. Jangan membuka lahan perkebunan dengan cara membakar hutan. Jika melakukan aktivitas pembakaran skala kecil missal sampah rumahan, usahakan dilakukan dengan minimal jarak 50 kaki dari bangunan dan 500 kaki dari hutan. Penting untuk memastikan api telah padam setelah melakukan aktivitas pembakaran. sr/red

Catatan Redaksi / admin

Gambar Gravatar
Setiap wartawan yang bekerja untuk kami, selalu kami bekali dengan Kartu PERS SKNews PULPIS, Harap hati - hati bila ada tugas peliputan yang mengatas namakan media ini. Silahkan hubungi kami segera apabila saudara di rugikan. Redaksi whatsApp 24 jam online : 0811 50 4141 Terimakasih